Ageboy Blog: http://ageboy.blogspot.com/2012/04/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html#ixzz28tv7zoxP memories of history: MAKALAH “MUHAMMADIYAH DALAM PERGERAKAN INDONESIA ”

Senin, 08 Oktober 2012

MAKALAH “MUHAMMADIYAH DALAM PERGERAKAN INDONESIA ”


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang        
Umumnya bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam tinggal di negeri-negeri yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Di Indonesia orang-orang Islam mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin dapat berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak kolonialisme Belanda, penetrasi Kristen dan perjuangan untuk maju di bagian-bagian lain di Asia apabila mereka terus melanjutkan kegiatan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam. Mereka mulai menyadari perlunya perubahan-perubahan untuk mengatasi pengaruh Barat dalam ilmu pengetahuan serta dalam memperluas daerah pengaruh atau dengan mempergunakan metode-metode baru yang telah dibawa ke Indonesia oleh kekuasaan kolonial serta pihak missi Kristen.
Orang-orang Indonesia melakukan berbagai Gerakan Islam di Indonesia. Gerakan Islam di Indonesia tidaklah dimulai dengan tahun 1911 dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam, atau tahun 1912 dengan berdirinya Muhammadiyah, atau tahun 1906 dengan terbitnya majalah Al-Imam (di Singapura), atau tahun 1911 dengan terbitnya majalah Al-Munir di Padang, atau dengan dibangunya sekolah Adabiyah di kota tersebut, atau tahun 1905 dengan berdirinya sekolah mi’at Khair (Djami’at Chair) di Jakarta. Tahun-tahun ini adalah tahun-tahun resmi berdirinya organisasi, sekolah atau terbitnya majalah yang bersangkutan. Namun pemikiran, gerakan permulaan baik berupa ajakan ataupun anjuran yang baik dari perorangan atau kelompok masyarakat, umumnya lebih dahulu dari tahun-tahun resmi tersebut.
Salah satu sebuah organisasi yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II dan mungkin juga sampai saat ini adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern atau reformis jelas menempati posisi dan peran kesejarahan yang khas di Indonesia maupun dunia. Untuk itu itu pada makalah ini akan mengkaji lebih jelas mengenai perkembangan Muhammadiyah dalam pergerakan nasional Indonesia.

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana Latar Belakang berdirinya Muhammadiyah ?
    2. Bagaimana perkembangan Muhammadiyah dalam pergerakan nasional Indonesia ?
    3. Bagaimana peran dan perkembangan Muhammadiyah dewasa ini ?
  2. Tujuan
Menjelaskan mengenai perkembangan Muhammadiyah dari awal terbentuknya hingga sekarang dan hubungannya dengan pergerkan nasional Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Latar Belakang berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah gerakan modernis Islam yang paling berpengaruh di Indonesia dan gerakan ini lebih berhati-hati serta lentur dalam menghadapi gelombang perubahan politik. Organisasi ini didirkan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo[1] untuk medirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen.
1.      Sejarah terbentuknya Muhammadiyah
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1869 dengan nama Muhammad Darwis, anak dari seorang Kyai Haji Abubakar bin Kyai Sulaiman yang menjadi khatib di masjid Sultan di kota Yogyakarta. Ibunya adalah anak Haji Ibrahin yang merupakan seorang penghulu. Setelah beliau menyeledaikan pendidikan dasarnya dalam nahu, fiqh, dan tafsir di yogyakarta, beliau pergi ke Mekkah tahun 1890 dimana beliau belajar selama setahun.
Kyai Haji Ahmad Dahlan telah menghayati cita-cita pembaharuan sekembali dari hajinya yang pertama. Tidak dapat kita buktikan dengan pasti, apakah ia sampai pada pemikiran dan pembahruan itu secara perorangan atau dipengaruhi oleh orang-orang lain dalam hal ini. beliau mulai mentrodusir cita-citanya itu mula-mula dengan mengubah arah orang bersembahyang kepada kiblat yang sebenarnya (sebelumnya arah sembahyang biasanya ke Barat).  Beliau juga mulai mengorganisir teman-temannya di daerah Kauman untuk melakukan pekerjaan suka rela dalam memperbaiki kondisi daerahnya dengan mempernaiki dan membersihkan jalan-jalan dan parit-parit.
Perubahan-perubahan ini memperlihatkan kesadaran Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan menurut pendapatnya memang tidak sesuai dengan Islam. Perubahan-perubahan ini tidak perlu datang dari pengaruh orang-orang lain, sebab kaum tradisi (dan kitab-kitab mereja juga) mengakui bahwa kiblat haruslah menuju ke arah ka’bah.
Pada saat itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan gagl dalam merealisasikan perubahan kiblat di masjid Sultan di Yogyakarta. Beliau memang dapat membangun langgarnya sendiri dengan meletakan kiblat yang tepat, tetapi perubahan ini tidak disenangi oleh penghulu Kyai Haji Mohammad Halil, yang memerintahkan untuk membinasakan langgar tersevut. Setelah Kyai Haji Ahmad Dahlan merasa kecewa terhadap perlakuan tersebut, beliau akhirnya meninggalkan Yogyakarta. Tetapi untunglah seorang keluarganya menghalangi maksudnya dan membangunkan untuknya sebuah langgar yang lain dengan jaminan bahwa beliau dapat mengajarkan dan mempraktekan agama menurut keyakinannya sendiri. Kemudia  beliau menggantikan ayahnya sebagai Khatib di masjid Sultan. [2] Tetapi inbi bukanlah satu-satunya pekerjaan beliau sebab be;iau juga aktif berdagang batik.
Dalam tahun 1909, beliau masuk dalam Budi Utomo dengan maksud memberikan pelajaran agama kepada angota-anggotanya. Dengan begitu, beliau berharap dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-seolah pemerintah, oleh sebab anggota-anggota Budi Utomo itu pada umunya bekerja di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah dan juga kantor-kantor pemerintah. Beliau juga berharap agar guru-guru sekolah yang diajarnya dapat meneruskan isi pelajarannya kepada murid-murid mereka. Pelajaran-pelajaran yang diberikan Kyai Haji Ahmad Dahlan telah memenuhi keperluan-keperluan anggota-anggota Budi Utomo, sebagai bukti dari saran mereka agar ia membuka sebuah sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib kebnyakan pesantren tradisional yang terpaksa ditutup apabila Kyai yang bersangkutan meninggal.
2.      Arti Nama Muhammadiyah
Kata Muhammadiyah secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Ketika Kkelahiranya memakai ejaan lama ”Moehammadijah”, dalam keputusan Kongres ke-19 tahun 1330 di Minagkabau dengan merujuk pada Kongres ke-14, disebutkan bahwa ejaan lafadz perhimupnan ialah ”Moehammadijah”. Setelah kemerdekaan kemudian berubah menjadi ”Muhammadiyah” sebagaimana kini berlaku secara baku.
3.      Tujuan
Sebagai sebuah gerakan Islam, Muhammadiyah mendasri gerakannya kepada sumber poko ajaran Islam yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Organisasi memepunyai maksud menyebarkan ajaran Nabi Muhammad saw kepada penduduk bumiputera dan memajukan hal agama Islam kepada angota-anggotanya. Untuk mencapai hal tersebut, organisasi ini bermaksud mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabliqh dimana dibicarakab masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar dan majalah.[3]
  1. Perkembangan Muhammadiyah dalam Pergerakan Nasional Indonesia
Pada waktu Muhammadiyah didirikan, keadaan masyarakat Islam sangat menyedihkan, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, maupun kultural akibat penjajahan Belandsa di Indonesia. Dalam bidang agama, kehidupan beragama menurut tuntunan al-Quran dan as-Sunnah tidak berjalan karena adanya perbuatan syirik, bid’ah, kurafat, dan tahayul sehingga agama Islam berada dalam keadaan beku. Di bidang pendidikan, lembaga pendidikan Islam yang ada tidak dapat memenuhi tuntutan dan kemajuan zaman, disebabkan sikap mengisolasi diri dari pengaruh luar serta adanya sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan panggilan zaman.
Muhammadiyah memiliki beberapa organisasi otonom yang berdiri sendiri dalam lingkungan Muhammadiyah. Organisasi otonom tersebut betul-betul otonom dalam ruang lingkup masing-masing. Mungkin saja organisasi otonom tersebut dapat digolongkan menjadi organisasi pendamping dan organisasi kader. Yang dimaksud dengan organisasi pendamping ialah Aisyah 9wanita) yang bahu-membahu dengan Muhammadiyah dalam mencapai cita-cita organisasi. Sedangkan organisasi kader yang akan melanjutkan perjuangan Muhammadiyah di masa depan. Organisasi otonom tersebut ialah :
·         ’Aisyah (wanita)
·         Pemuda Muhammadiyah
·         Nasyitul ’Aisyah (puteri)
·         Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
·         Ikatan Remaja Muhammadiyah
·         Tapak suci Putera Muhammadiyah (perguruan pencak silat)

Muhammadiyah dalam perkembangan berikutnya dikenal luas oleh masyarakat maupun para peneliti dan penulis sebagai gerakan Islam pembaruan atau gerakan tajdid. Muhammadiyah karena memiliki watak pembaruan dikenal pula sebagai gerakan reformasi dan gerakan modernisme Islam, yang berkiprah dalam mewujudkan ajaean Islam senafas dengan semangat kemajuan dan kemoderenan saat itu. Selain itu Muhammadiyah dikenal juga sebagai gerakan dakwahyang bergerak dalam menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. dan tidak bergerak dalam lapangan politik. Sifat-sifat sosial dan pendidikan Muhammadiyah memanglah telah ada pada masa-masa ini.
Daerah operasi oragnisasi Muhammadiyah mulai diluaskan setelah tahun 1917. Pada tahun itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di Yogyakarta  ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan mendapatkan simpati dalam kongres tersebut.
  1. Muhammadiyah Masa Kependudukan Jepang
Pada masa kependudukan Jepang, Muhammadiyah sebagai organisasi agama di Indonesia mendapatkan dukungan dari pemerintah Jepang. Sebaliknya banyak partai politik yang ada dibubarkan, sedangkan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama’ diberi izin untuk mengelola pendidikan Muslim di atas tingkat pendidikan dasar. Pemerintah Jepang juga mendirikan kelompok milisi Muslim dengan lambing bulan sabit dan matahari terbit yang melambangkan perjuangna jihad bersama Jepang dalam menghadapi kekuatan Barat.[4]
Melalui K.H Mas Mansur, Muhammadiyah memiliki wakil dan peranan penting dalam Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Selain itu, melalui Ki Bagus Hadikusumo Muhammadiyah tetap dapat menunjukkan sikap kritis, yakni terkait dengan penolakan pada aturan-aturan penghormatan kepada Tenno Haika dengan membungkukkan badan kearah matahari terbit (seikirei).[5]  Atas ultimatum Ki Bagus Hadikusumo segera dipanggil Gunseikan atau Gubernur Militer di Yogyakarta. Akhirnya persoalan pelik tersebut dapat diatasi.
Menjelang meletusnya Perang Dunia II tahun 1939, kedududkan Pemerintah Hindia –Belanda goyah karenan semakin gencarnya desakan perjuangan kebangsaan Indonesia. Sebelum melakukan ekspansi ke Negara-negara di Asia Tenggara, Jepang telah mengambil langkah awal yaitu sejak pertengahan tahun 1920-an. Sejak pertengan tahun 1920-an dan seterusnya, lembaga-lembaga Islam dan majalah-majalah Islam mulai muncul di Jepang.[6] Pada tahun 1938 Jepang mengundang tokoh-tokoh Islam dari beberapa Negara, termasuk Indonesia untuk menghadiri peresmian masjid di Tokyo. Usaha-usaha Jepang tersebut merupakan rencana awal ekspansiinisme Dai Nippon.[7]
Pada saat Muhammadiyah dibawah pimpinan Mas Mansur, Jepang menyerbiu Indonesia. Jepang menyatakan perang kepada Sekutu setelah menyerang pangkalan Armada Amerika Serikat di Pearl Harbour. Akhirnya sekutu menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942 di Kalijati.
Agar mendapat simpati dari umat Islam, maka Jepang berlalku lunak kepada Muhammadiyah. Gerakan dakwah Islam yang dilakukan Mughammadiyah berjalan biasa. Organisasi Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Hizbul Wathan, diberi kesempatan mengembangkan dirinya. Lain halnya dengan umat Katolik dan Kristen, yang pada waktu itu yang mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang-orang Belanda yang seagama.
Jepang berusaha menghilangkan kesan bahwa kehadiran mereka tidaklah untuk menjajah, melanikan sebagai pelindung Asia atau saudara Tua Indonesia.  Upaya Jepang terdiri atas, yang pertama Jepang mengikutsertakan tokoh-tokoh kebangsaan organisasi atau lembaga dalam pemerintahan Jepang. Kedua, penggunaan bahasa Indonesia disamping bahasa Jepang sebagai bahasa resmi dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Pada tanggal 20 Mei 1942 Jepang mengeluarkan UU Nomor 3 dan 4 yang melarang organisasi pergerakan rakyat Indonesia aktif. Sebagai penggantinya Jepang memebentuk Putera yang dipimpin empat serangkai. Salah satu empat serangkai tersebut adalah Mas Mansur, sehingga jabatan pengurus Besar Muhammadiyah diserahkan kepada wakil ketua, yaitu Ki Bagus Hadikusumo.
Selain aktif di Putera, banyak orang Muhammadiyah yang diangkat dan menduduki pasukan Pembela Tanah Air (Peta), menjadi Cu Dan Co, latihan militer (sainendan dan keibondan). Dalam menempuh perjuangan Muhammadiyah tidak melepaskan diri dari organisasi-organisasi Islam yang senafas.[8]
Pada 10 September 1943 Pemerintahan Jepang mengumumkan status hokum Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama’.[9] Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama’ tetap melakukan kegiatan dan MIAI sejak Oktober telah dilarang oleh pemerintah tanpa alas an yang jelas.[10] Pada 6 April 1943 Muhammadiyah mengubah tujuannya sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh Asia Raya, dibawah pimpinan Dai Nippon. Tujuan tersebut terdiri atas:
a.       Hendak mengajarkan agama Islam serta melatih hidup yang selaras dengan tuntunannya.
b.      Hendak melakukan pekerjaan perbaikan umum.
c.       Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.[11]
Pada tahun 1944 diselenggarakan kongres darurat di Yogyakarta untuk mengetahui perkembangan organisasi Muhammadiya. Muhammadiyah telah menggunakan istilah Indonesia dalam anggaran dasar sejak tahun 1941. Hal tersebut merupakan upaya untuk memperjuangkan Indonesia yang berdaulat.  Sebelum tahun 1940-an istilah Indonesia belum digunakan, tetapi setelah tahun 1940 kalangan Islam dan kebangsaan mulai mempergunakan istilah Indonesia. Dalam perjalannya Muhammadiyah sebagai oerganisasi Islam di Indonesia berperan penting dalam membangun masyarakat Indonesia, seperti:
a.       Mendirikan masjid-masjid dan pendirian-pendirian lain untuk tempat ibadah.
b.      Mendirikan dan mengatur pendirian-pendirian untuk pengajaran agama Islam dan Umum.
c.       Menyiarkan citakan buat tablig dan pendidikan umum.
d.      Mengadakan rapat tentang agama.
e.       Mengusahakan rumah yatim, rumah miskin, balai kesehatan, dan lain-lain pekerjaan amal yang baik dan umum.
f.       Melakukan lain-lain pekerjaan juga yang perlu untuk menyampaikan tujuannya.[12]
Dalam kondisi politik yang tidak menentu, di mana posisi organisasi social pribumi sangat memungkinkan sikap-sikap politik ormas seperti Muhammadiyah hanya formalitas. Muhammadiyah mengakui kekuatan pemerintah, tetapi bersifat simbolik. Dukungan terhadap Dai Nippon diberikan kepada Jepang dengan syarat bahwa Jepang dilarang menghina agama Islam. Kerjasama yang di galang pemerintah Jepang diterima oleh pemuda Muhammadiyah asalkan tidak bekerjasama dalam bidang keagamaan.
Pada November 1943 Jepang mendirikan Masyumi untuk menyatukan dan mengkoordinir seluruh pergerakan muslim.beberapa fungsi administrasi dan kemiliteran yang diberikan kepada sejumlah muslim menguatkan posisi muslim di masa selanjutnya. Muhhamdiyah pun tetap aktif hingga saat ini.
D.    Muhhamadiyah Dewasa Ini
Setelah satu abad berdirinya Muhammadiyah, organisasi keagamaan ini tetap eksis hingga sekarang. Posisi Muhammadiyah dalam dinamika dan permasalahan kehidupan nasional, global, dan dunia Islam memegang peran penting dalam kemajuan bangsa, hal ini dapat dilihat dari peran Muhammadiyah secara umum, yaitu:
a.       Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid terus mendorong tumbuhnya gerakan pemurnian ajaran Islam dalam masalah yang baku (al-tsawabit) dan pengembangan pemikiran dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang menitikberatkan aktivitasnya pada dakwah amar makruf nahi munkar.
b.      Kedua, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dengan semangat tajdid yang dimilikinya terus mendorong tumbuhnya pemikiran Islam secara sehat dalam berbagai bidang kehidupan.
c.       Ketiga, sebagai salah satu komponen bangsa, Muhammadiyah bertanggung jawab atas berbagai upaya untuk tercapainya cita-cita bangsa dan Negara.
d.      Keempat, sebagai warga Dunia Islam, Muhammadiyah bertanggung jawab atas terwujudnya kemajuan umat Islam di segala bidang kehidupan, bebas dari ketertinggalan, keterasingan, dan keteraniayaan dalam percaturan dan peradaban global.
e.       Kelima, sebagai warga dunia, Muhammadiyah senantiasa bertanggungjawab atas terciptanya tatanan dunia yang adil, sejahtera, dan berperadaban tinggi sesuai dengan misi membawa pesan Islam sebagai rahmatan lil-alamin.[13]
Dewasa ini Muhammadiyah sebagai salah satu organiusasi Islam terbesar di Indonesia banyak melaksanakan kegiatan-kegiatan, seperti peningkatan kesehatan dengan mendirikan rumahsakit-rumasakit Islam, dalam pendidikan Muhammadiyah juga ,mendirikan sekolah dari tingkat TK hingga erguruan tinggi. Muhammadaiyah tumbuh menjadi organisasi yang penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Meskipun Muhammadiyah tidak terlibat politik kekuasaan, tetapi Muhammadiyah terlibat dalam politik cultural. Muhammadiyah yang saat ini lebih banyak memberikan saran moral dan tidak akan pernah terlibat politik praktis.


BAB III
KESIMPULAN
Muhammadiyah adalah gerakan modernis Islam yang paling berpengaruh di Indonesia dan gerakan ini lebih berhati-hati serta lentur dalam menghadapi gelombang perubahan politik. Organisasi ini didirkan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo.
Muhammadiyah dalam perkembangan berikutnya dikenal luas oleh masyarakat maupun para peneliti dan penulis sebagai gerakan Islam pembaruan atau gerakan tajdid. Muhammadiyah karena memiliki watak pembaruan dikenal pula sebagai gerakan reformasi dan gerakan modernisme Islam, yang berkiprah dalam mewujudkan ajaean Islam senafas dengan semangat kemajuan dan kemoderenan saat itu. Selain itu Muhammadiyah dikenal juga sebagai gerakan dakwah yang bergerak dalam menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. dan tidak bergerak dalam lapangan politik. Pada masa kependudukan Jepang, Muhammadiyah sebagai organisasi agama di Indonesia mendapatkan dukungan dari pemerintah Jepang.
Dewasa ini Muhammadiyah sebagai organisasi agama lebih cenderung ikut dalam politik cultural ketimbang politik yang sesungguhnya. Muhammadiyah tidak ikut dalam percatuan politik Indonesia, Muhammadiyah lebih memilih memberikan saran moral dan tidak akan pernah terlibat politik praktis.


DAFTAR PUSTAKA
Benda, Harry J. 1985. The Crescent and the Risisng Sun, Indonesia Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945. Diterjemahkan Daniel Dhakida. Jakarta: Dunia Pustakan Jaya.
Ira M Lapidus. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nashir, Haedar. 2010. Muhammadiyah Gerakan Pembaruan.Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Noer, Deliar. 1973. Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
Raiz, Amin dan Syafi’i Ma’arif. 1996. Dinamika Pemikiran Islam dan Muhammadiyah (Almanak Muhammadiyah Tahun 1997 M./1417-1418 H.). Yogyakarta: Lembaga Pustaka dan Dokumentasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syarifuddin Jurdi. 2010. 1 Abad Muhammadiyah. Jakarta: Kompas.
Internet:
Muqadimmah.http://www.muhammadiyah.or.id. diunduh pada Selasa, 25 September 2012 pukul 05.00 WIB.


[1] Budi Utomo didirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan beberapa orang pelajar sekolah dokter.
[2] tetentang biografi Dahlan lihat Peringatan 40 tahun Muhammadiyah (Jakarta: Panitia Peringatan 40 tahun Muhammadiyah, 1952), hal.367, 368.
[3] Javasche Courant, No.71, 4 September 1914.
[4] Ira M Lapidus, 2000, Sejarah Sosial Ummat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm.338,.
[5] Syarifuddin Jurdi, 2010, 1 Abad Muhammadiyah, Jakarta: Kompas, hlm. 110.,
[6] Benda, Harry J, 1985, The Crescent and the Risisng Sun, Indonesia Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945 diterjemahkan Daniel Dhakidae, Jakarta: Dunia Pustakan Jaya, hlm. 133.,
[7] Ibid.,
[8] Op.Cit, Syarifuddin Jurdi,hlm. 115.,
[9] Ibid.,hlm.116.,
[10] MIAI atau Majelis Islam A'la Indonesia adalah badan federasi bagi ormas Islam yang dibentuk dari hasil pertemuan 18-21 September 1937. Pada masa pemerintahan Jepang, MIAI dibubarkan dan diganti dengan Masyumi.
[11] Ibid.,
[12] Ibid.118.,
[13] Muqadimmah.http://www.muhammadiyah.or.id. diunduh pada Selasa, 25 September 2012 pukul 05.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar