Ageboy Blog: http://ageboy.blogspot.com/2012/04/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html#ixzz28tv7zoxP memories of history

Selasa, 20 Maret 2012

McDonaldization


McDonaldization yaitu sebuah proses di mana berbagai prinsip restoran fast-food hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan di berbagai negara manapun di dunia. McDonaldization adalah adalah suatu versi gagasan terbaru mengenai hilangnya homogenisasi masyarakat seluruh dunia melalui dampak perusahaan multinasional. McDonaldization, menurut sosiolog George Ritzer, adalah " proses dimana prinsip-prinsip dari rumah makan cepat saji mendominasi semakin banyak sektor-sektor dari masyarakat Amerika seperti juga seluruh isi dunia ini " (1993:19). Istilah "seluruh isi dunia ini" menghasilkan renungan. Proses di mana ini terjadi adalah rasionalisasi dalam pengertian Weber, yaitu, melalui rasionalitas formal yang ditetapkan dalam aturan dan peraturan. Rumus McDonald's berhasil karena efisien (layanan cepat), diperhitungkan (cepat dan murah), diprediksi (tidak ada kejutan), dan pengendalian tenaga kerja dan pelanggan. Keempat prinsip tersebut yaitu:
1.      Efisiensi
Efisiensi adalah memilih sarana optimal bagi tujuan akhir yang telah ditetapkan. Optimal dalam hal ini bermakna upaya mendapatkan dan memanfaatkan sarana sebaik mungkin. Pengertian tersebut sebenarnya bukan pengertian umum seperti yang biasa kita pahami namun dalam masyarakat yang di-McDonalisasi lebih merupakan pengertian yang tidak pernah bisa dilacak sarana terbaik bagi tujuan akhirnya. Mereka pada kenyataannya menjadi cenderung menggantungkan pada sarana yang ditemukan dan dilembagakan. Dengan kata lain mereka digiring memiliki “hasrat lebih efisien”. Efisiensi dalam kenyataannya bisa ditemui meluas dalam hal proses, menyederhanakan produk, serta pada kegiatan-kegiatan teknis pelayanan dengan cara meminta konsumen melakukan sesuatu yang sebelumnya dikerjakan oleh karyawan. Dalam menyangkut proses, organisasi yang ter-McDonaliasi akan menyiapkan alur kerja dan teknis produksi dengan prisip efisiensi yang melibatkan sejumlah pekerja dengan tugas khusus serta didukung oleh teknologi modern. Contoh lain penerapan efisiensi adalah menyangkut produk yang dihasilkan, yaitu dengan cara menyederhanakan produk. Upaya penyederhanaan produk ini merupakan landasan industrinya, yaitu sedikit bahan mentah, sederhana dalam pembuatan dan penyajiannya tetapi bisa cepat dikonsumsi (dimakan). Demi efisiensi organisasi ter-McDonalisasi “memaksa” konsumen bekerja. Di dalam konteks McDonaldisasi ini, efisiensi menurut Ritzer adalah cara yang paling cepat agar lapar  menjadi kenyang. Efisiensi McDonaldization berarti bahwa setiap aspek dari organisasi itu agar dapat meminimalkan waktu atau memberikan layanan cepat.
2.  Calculabilas
Calculabilas (Daya Hitung), McDonalisasi menekankan pada sesuatu yang bisa dikalkulasi, dihitung dan dibilang serta menitik beratkan kuantitas menjadi pengganti kualitas. Penekanan pada kuantitas ini berkaitan dengan proses maupun hasil akhir. Pada proses, penekanannya lebih pada kecepatan. Sedangkan pada hasil akhir, fokusnya terletak pada jumlah produksi yang dihasilkan dan disajikan. Aplikasi dimensi ini pada akhirnya diharapkan membawa pengaruh pada efisiensi, karena sesuatu yang didisain mampu dihitung akan mendukung prinsip efisiensi.
Penekanan pada kuantifikasi dibanding kualitas produk dalam prinsip Daya Hitung tersebut juga diikuti dengan penciptaan ilusi kuantitas di benak konsumen serta mengatur proses produksi dan layanan menjadi bilangan yang bisa dikontrol. Untuk kepentingan ilusi, penyajian produk biasanya diatur sedemikian rupa sehingga porsi dikesankan “tampak berlebihan”. Sedangkan dalam proses produksi dan layanan, pengukuran setiap elemen input sebelum proses produksi dilakukan dengan cermat sehingga bisa dipastikan kontrol kuantitas serta kualitasnya.
Kecepatan juga tampaknya menjadi sesuatu yang penting dalam prinsip ini. Organisasi terMcDonalisasi akan berusaha membuat terobosan bagaimana menyelesaikan dan menyajikan suatu produk dalam jumlah maksimal dalam waktu yang relatif singkat. McDonaldisasi mengembangkan asumsi bahwa mutu kuantitas sama, dan bahwa sejumlah besar produk yang dikirimkan kepada pelanggan di suatu waktu yang pendek  sama sebagai suatu produk yang bermutu  tinggi. Hal ini membiarkan orang-orang untuk mengukur berapa banyak mereka harus membayar. Restoran cepat saji menghendaki konsumen-konsumen untuk  percaya bahwa restoran cepat saji itu murah. Para pekerja restoran cepat saji dituntut oleh seberapa cepat mereka daripada mutu pekerjaan yang mereka lakukan.
3.      Kemungkinan meramalkan / Prediksi 
Kemungkinan meramalkan,  standardisasi dan pelayanan yang seragam. "Kemungkinan meramalkan" berarti bahwa dimanapun juga seseorang pergi, mereka akan menerima layanan yang sama dan menerima produk yang sama setiap kali berinteraksi dengan organisasi McDonald. Prinsip Prediksi dalam McDonalisasi memberikan suatu kepastian dalam berbagai hal yang menyangkut banyak aspek, mulai bagi karyawan, organisasi maupun konsumen. Bagi karyawan prinsip ini memberikan “kepastian” tentang hal-hal yang berkaitan dengan cakupan bidang kerja. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang berulang, rutin, dan terprediksi. Pada organisasi, daya prediksi produk dalam beberapa aspek (ukuran, rasa, warna dsb) akan mudah dilakukan dengan melalui penyeragaman bahan mentah, penerapan teknologi sejenis dalam proses produksi serta sistem pengepakan.
4.      Kendali / kontrol
penekanan dimensi kontrol terletak pada penggantian manusia dengan teknologi non manusia melalui pencarian cara-cara untuk meningkatkan kontrol atas proses produksi, pekerja dan pelanggan. Pengertian teknologi dalam prinsip ini tidak hanya menyangkut mesin-mesin dan peralatan tetapi juga material, skill, pengetahuan, hukum, aturan, prosedur serta teknik.
McDonaldization merupakan variasi pada suatu tema: tema klasik menghilang karena unilversalisme dan bentuk modern dari modernisasi dan penyebaran global hubungan kapitalis. Diffusionism, jika difusi kultural diambil sebagai berasal dari suatu pusat tunggal (misalnya,Mesir), telah menjadi bentuk umum garis pemikiran ini. Dari tahun 1950-an, hal ini telah dilakukan untuk mengambil bentuk Amerikanisasi. Sejak tahun 1960, perusahaan-perusahaan multinasional telah dilihat sebagai pertanda modernisasi Amerika. Di Amerika Latin pada tahun 1970, pengaruh ini dikenal sebagai Coca-kolonisasi. Ini adalah variasi pada tema imperialisme kultural, dalam bentuk universalisme konsumeris atau pengaruh media global. Garis pemikiran ini telah menonjol dalam studi media sesuai dengan pengaruh media Amerika yang membuat sinkronisasi budaya global (e g., Schiller 1989, Hamelink 1983; pandangan kritis Morley 1994).
Modernisasi dan Amerikanisasi adalah versi terbaru dari westernisasi. Jika kolonialisme disampaikan melalui Eropanisasi, neokolonialisme di bawah hegemoni AS memberikan Amerikanisasi. Hal yang sama untuk keduanya adalah tesis modernisasi, di mana Marx dan Weber telah menjadi pendukung paling berpengaruh. Tesis Marx telah menyebarkan kapitalisme ke seluruh dunia. Teori sistem dunia adalah versi terbaru dari perspektif ini. Sedangkan Weber, penekanannya lebih pada rasionalisasi, dalam bentuk birokratisasi dan teknologi sosial rasional. Kedua perspektif ini jatuh dalam kerangka umum evolusionisme, trek-tunggal proses evolusi universal di mana semua masyarakat, beberapa lebih cepat dari yang lain, mengalami kemajuan-kemajuan visi universal seperti layaknya kekaisaran dunia. Suatu versi abad ke duapuluh dari pemikiran ini adalah evolusi konvergensi Teilhard de Chardin menuju lingkaran tersebut.
Shannon Peters Talbott (1995) meneliti tesis McDonaldization melalui etnografi McDonald's di Moskow dan menemukan argumen yang tidak akurat pada setiap skor. Alih-alih efisiensi, antrian (sampai beberapa jam) dan berlama-lama adalah hal yang biasa. Bukannya murah, makan di McDonald biaya rata-rata lebih dari sepertiga dari upah harian rata-rata pekerja Rusia. Alih-alih prediktabilitas, perbedaan dan keunikan menarik pelanggan Rusia, sementara banyak item menu standar yang tidak dilayani di Moskow. Alih-alih kontrol manajemen seragam, McDonald's Moskow memperkenalkan variasi dalam kontrol tenaga kerja ("motivasi ekstra menyenangkan," kompetisi pelayanan yang cepat, jam khusus bagi pekerja untuk membawa keluarga mereka untuk makan di restoran) dan dalam kontrol pelanggan yang memungkinkan pelanggan untuk berlama-lama,  sering untuk lebih dari satu jam pada secangkir teh, untuk "menyerap atmosfer."
Dia menyimpulkan bahwa McDonald's di Moskow tidak mewakili homogenisasi budaya melainkan harus dipahami sepanjang garis lokalisasi global. Hal ini sesuai dengan argumen dalam studi bisnis bahwa korporasi, juga ketika mereka mencari untuk mewakili "produk dunia," hanya berhasil jika dan sejauh mereka menyesuaikan diri dengan budaya lokal dan pasar. Mereka harus menjadi orang dalam, ini adalah prinsip "insiderization" dimana pemimpin Sony terakhir Akio Morita menciptakan istilah "globalisasi," atau "memandang dalam dua arah" (Ohmae 1992:93). Perusahaan multinasional, tetapi mungkin "semua bisnis adalah lokal."
Hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang berlawanan, seperti dalam kasus iklan perusahaan internasional McCann Erickson, cabang Trinidad membenarkan kehadiran mempromosikan kekhasan budaya lokal Trinidad. "Ironisnya, tentu saja, bahwa ... itu adalah iklan termasuk transnasional yang telah menjadi investor utama dalam melestarikan dan promosi gambar kekhususan lokal, dipertahankan jika tidak menciptakan ide bahwa Trinidad berbeda, dan menanamkan kepercayaan ini dalam populasi pada umumnya "(Miller 1995: 9). Profitabilitas dari cabang perusahaan transnasional pada profitabilitas kantor cabang yang bunga terletak pada bujukan perusahaan yang hanya menjual iklan lokal.
Sejauh ini, ini hanya mempertimbangkan dari sudut perusahaan. Sisi lain dari lokalisasi global adalah sikap pelanggan. Pengalaman McDonald's Moskow dibandingkan dengan adaptasi prinsip fast food dari Amerika di tempat lain, misalnya di Asia Timur (Watson 1997). Disini restoran cepat saji meskipun secara lahiriah sama dengan pelayanan model Amerika tapi sangat berbeda dalam hal selera dan kebutuhan. Mereka tidak kalah dengan pasar cepat saji tetapi memenuhi selera kelas menengah. Mereka mencari estetika "modern" mereka, menghargai variasi makanan bukan keseragaman, dan menghasilkan keturunan "campuran", seperti restoran "Chinglish" atau "Chamerican" di Cina. Mereka menawarkan ruang publik, tempat pertemuan selera budaya yang netral karena kebaruan jenis baru pada konsumen, seperti pasar konsumen kaum muda, perempuan bekerja dan keluarga kelas menengah. Mereka berfungsi dalam cara yang sama dengan di Eropa selatan dan Timur Tengah yang hilang. Ketika Tokyo mengalami musim dingin, siswa muda masuk ke Wendy menghabiskan waktu berjam-jam mengerjakan pekerjaan rumah mereka, merokok dan mengobrol dengan teman, karena rumah-rumah Jepang yang kecil.
Jadi, dibandingkan budaya homogenisasi McDonald's dan lainnya dalam keluarga restoran cepat saji barat (Burger King, KFC, Pizza Hut, Wendy's) melayani perbedaan dan keragaman, sehingga menimbulkan dan mencerminkan, bentuk-bentuk sosial campuran yang baru. Di mana mereka diimpor, mereka melayani fungsi sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda dibandingkan di tempat asal mereka, dan rumus mereka adalah disesuaikan dengan kondisi setempat. Dalam metropoles barat, sekarang kita melihat restoran oriental cepat saji dan menyatu bersama dengan Latin, Timur Tengah, Turki, dan restoran-restoran Perancis.
Fast food mungkin berasal di luar  Barat, tetapi dijumpai berdampingan dengan warung makanan Timur Tengah, Asia, danAfrika. Restoran Amerika cepat saji menyajikan makanan Jerman (hamburger, sosis) dan Perancis (kentang goreng, dressing) dan elemen Italia (pizza) dalam gaya manajemen Amerika. Kontribusi Amerika selain rasa adalah standarisasi rakitannya dalam Taylorist Amerika dan tradisi manajerial, dan pemasaran. Dengan demikian, akan lebih masuk akal untuk mempertimbangkan McDonaldization sebagai bentuk hibridisasi antar-budaya, sebagian dalam asal-usulnya dan tentu saja menghadirkan berbagai bemtuk lokalisasi global.
McDonaldization telah memicu tumbuhnya perlawanan dan perdebatan luas (Alfino et al1998, Smart 1999.). Di negara asalnya, McDonald's sudah mencapai puncaknya, sahamnya menurun dan menutup waralaba. Obesitas sebagai penyakit nasional dan berubah menjadi diet-diet, kejenuhan pasar makanan cepat saji, resistensi (daya tahan perlawanan), dan litigasi (proses pengadilan) berkontribusi terhadap penurunan tersebut. Di luar "rasionalisasi" ini membawa kita kepada pergeseran bentuk kapitalisme kontemporer. Apakah kapitalisme kontemporer adalah kekuatan homogenisasi? Aliran studi meneliti budaya kapitalisme akhir, permasalahan yang sering terstruktur dengan sistem berpikir dunia (Wallerstein 1990) atau setidaknya dalam kosakata (King 1991). Komodifikasi tenaga kerja, layanan, dan informasi mengambil berbagai bentuk, dengan judul masing-masing di mana yang lain seperti Mcjobs lamen, Mclnformation, McCitizens, McUniversity, McTourism McCulture, McPrisons, McCourts(Gottdiener 2000, Ritzer 2002, Stojkovic et al. 1999). Satu studi menemukan "untuk melakukan intervensi dalam wacana kapitalisme transnasional yang kecenderungannya adalah totalitas sistem dunia" (Lowe dan Lloyd 1997: 15), tetapi pada prosesnya ditemukan bahwa "kapitalisme telah berjalan tidak melalui homogenisasi global tetapi melalui diferensiasi pasar tenaga kerja, sumber daya material, pasar konsumen, dan operasional produksi  ". Ekonom Michael Storper menemukan efek gabungan homogenisasi dan diversifikasi di seluruh dunia:
Hilangnya budaya "asli" lokal di tempat-tempat [kota kecil di AS] adalah ratapan yang konstan. Namun di sisi lain, untuk penduduk atau tempat-tempat seperti Paris, Columbus, atau Belo Horizonte, dalam hal ini telah terjadi peningkatan tak terbantahkan dalam berbagai bahan, jasa, dan keluaran budaya. Singkatnya, hilangnya keanekaragaman yang dirasakan akan tampak disebabkan oleh rescaling wilayah tertentu: dari dunia yang lebih lokalitas internal homogen, di mana keanekaragaman ditemukan oleh perjalanan antara tempat dengan budaya material yang berbeda nyata dengan dunia di mana satu perjalanan antara tempat serupa tetapi menemukan meningkatkan variasi dalam diri mereka. (Storper 2001:114-15)
Kebanyakan penelitian kapitalisme dan budaya menemukan beragam dan dampak hibrida. Hal ini menunjukkan bahwa kapitalisme itu sendiri melayani keanekaragaman lebih dari biasanya diasumsikan-sehingga kapitalisme analitik akan lebih sesuai, dan persimpangan budaya lebih beragam daripada umumnya diasumsikan. Akar  dari kapitalisme yang kembar kemudian berlanjut dengan akar budaya, membawa kita ke tema hibridisasi.

Manifestasi
Dampak McDonalisasi seiring waktu merambah ke berbagai sektor kehidupan dan dimanifestasikan dalam beberapa cara:
1.      Model McDonald tidak saja diadopsi oleh usaha waralaba makanan, namun masuk dalam restoran-restoran “cepat hidang” di negara-negara maju. Hal ini semakin lama penjualan restoran fast foodnampak membedakan diri dengan restoran berlayanan tradisional.
2.      Berilham institusi bisnis waralaba ini, beberapa negara mengembangkan variasinya sendiri, mulai dari jenis makanan ringan sampai “body shop” dan aktivitas-aktivitas bisnis non makanan.

Prinsip rasional
Prinsip rasional yang mendasari bekerjanya organisasi modern dalam McDonalisasi pada akhirnya seringkali dianggap malah melahirkan irasionalitas dalam berbagai bentuk, diantaranya inefisiensi, ketidak mampuan prediksi, ketidak mampuan dihitung serta hilangnya control. Dan yang paling penting adalah irasionalitas yang mengarah pada pengingkaran prinsip kemanusiaan.
Meski McDonalisasi menggembar-gemborkan efisiensi, sebagian perolehan efisiensi tersebut hanya dirasakan oleh pencipta rasionalisasi. Sedangkan sebenarnya apa yang sedang dibangun adalah ilusi kesenangan bagi konsumen dengan menghadirkan berbagai macam fasilitas dan hiburan untuk menutupi irasionalitasnya.
Lebih jauh lagi, pengamatan tentang irasionalitas McDonalisasi sampai pada anggapan adanya penciptaan suatu sistem dehumanisasi yang anti manusia dan menghancurkan manusia. Pada kenyataannya ada sejumlah irasionalitas yang terjadi diantaranya yaitu ancaman kesehatan dan lingkungan, dehumanisasi pegawai dan pelanggan, pengaruh negative hubungan manusia dan proses homogenisasi.

Kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia


Kedatangan orang-orang Eropa pertama di kawasan Asia Tenggara pada awal abad XVI kadang-kadang dipandang sebagai titik penentu yang paling penting dalam sejarah kawasan ini. Pada abad XV bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa yang mencapai kemejuan-kemajuan di bidang teknologi tertentu. Bangsa Portugis yang telah dapat membuat kapal-kapal yang lebih layak dan canggih di bandingkan dengan kapal-kapal sebelumnya memungkinkan mereka melakukan sebuah pelayaran dan melebarkan kekuasaaan ke seberang lautan.
Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa bangsa Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik. Rempah-rempah di kawasan Eropa merupakan kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin di Eropa tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup. Kerena itu banyak hewan ternak yang disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan. Untuk itulah diperlukan sekali banyak garam dan rempah-rempah.
Cengkih dari Indonesia Timur adalah yang paling berharga. Indonesia juga menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala. Alasan itulah yang membuat Portugis ingin menemukan dan menguasai daerah Indonesia agar dapat menguasai di kawasan Eropa.
Pada tahun 1847, Bartolomeu Dias mengitari tanjung Harapan dan memasuki perairan Samudra Hindia. Pada tahun 1947, Vasco da Gama sampai di India. Namun, orang-orang Portugis ini segera mengetahui bahwa barang-barang dagangan yang hendak mereka jual tidak dapat bersaing di pasaran India yang canggih dengan barang-barang yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia. Karena itu, mereka sadar harus melakukan peperangan di laut untuk mengukuhkan diri. Alfonso de Albuquerque merupakan panglima angkatan laut terbesar pada masa itu. Pada tahun 1503 Albuquerque berangkat menuju India, dan pada tahun 1510 dia menaklukan goa di pantai barat yang kemudian menjadi pangkalan tetap portugis. Pada waktu itu telah dibangun pangkalan-pangkalan di tempat-tempat yang agak ke barat, yaitu di Ormuzdan Sokotra. Rencananya ialah untuk mendominasi perdagangan laut di Asia dengan cara membangun pangkalan-pangkalan tetap di tempat-tempat krusial yang dapat digunakan untukmengarahkan teknologi militer Portuhis yang tinggi.Pada tahun 1510, setelah mengalami banyak pertempuran, penderitaan, dan kekacauan internal, tampaknya Portugis hampir mencapai tujuannya. Sasaran yang paling penting adalah menyerang ujung timur perdagangan Asia di Maluku.
Setelah mendengar laporan-laporan pertama dari para pedagang Asia mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar, Raja Portugal mengutus Diogo Lopez de Sequiera untuk meneukan Malaka, menjalin hubungan persahabatan dengan penguasanya, dan menetap disana sebagai wakil Portugal di sebelah timur India. Tugas Sequiera tersebut tidak mungkin terlaksana seluruhnya ketika dia tiba di Maluku pada tahun 1509. Pada mulanya dia disambut dengan baik oleh Sultan Mahmud Syah (1488-1528), tetapi kemudian komunitas dagang internasional yang ada di kota itu meyakinkan Mahmud bahwa Portugis merupakan ancaman besar baginya. Akhirnya, Sultan Mahmud melawan Sequiera, menawan beberapa orang anak buahnya, dan membunuh beberapa yang lain. Ia juga mencoba menyerang empat kapal Portugis, tetapi keempat kapal tersebut berhasil berlayar ke laut lepas. Seperti yang telah terjadi di tempat-tempat yang lebih ke barat, tampak jelas bahwa penaklukan adalah satu-satunya cara yang tersediabagi Portugis untuk memperkokoh diri.
Pada bulan April 1511, Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa Purtugis menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 (18) buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang bulan Juli dan awal Agustus. Pihak Malaka terhambat oleh pertikaian antara Sultan Mahmud dan putranya, Sultan Ahmad yang baru saja diserahi kekuasaan atas negara dan nantinya dibunuh atas perintah ayahnya. Namun Malaka akhirnya berhasil ditaklukan. Albuquerque menetap di Malaka sampai bulan November 1511, dan selama itu dia mempersiapkan pertahanan Malaka untuk menahan setiap serangan balasan orang-orang Melayu. Dia juga memerintahkan kapal-kapal yang pertama untuk mencari “Kepulauan Rempah”. Sesudah itu dia berangkat ke India dengan kapal besar, dia berhasil meloloskan diri ketika kapal itu karam di lepas pantai Sumatera beserta semua barang rampasan yang dijarah di Malaka.
Setelah satu kapal layar lagi tenggelam, sisa armada itu tiba di Ternate pada tahun itu juga. Dengan susah payah karena kaplnya karam ekspedisi pertama itu tiba di Ternate dan berhasil mengadakan hubungan dengan Sultan Aby Lais (meninggal 1522). Sultan Ternate itu berjanji akan menyediakan cengkeh bagi Portugis setiap tahun dengan syarat dibangunnya sebuah benteng di pulau Ternate.
Hubungan dagang yang tetap baru dapat dirintis oleh Antonio de Abrito. Hubungannya dengan Sultan Ternate yang masih anak-anak, Kacili Abu Hayat, dan pengasuhnya Kacili Darwis, berlangsung sangat baik. Pihak Ternate tanpa ragu mengizinkan DeBrito membangun benteng pertama Portugis di Pilau Ternate (Sao Joao Bautista atau Nossa Seighora de Rossario) pada tahun 1522. Penduduk Ternate menggunakan istilah Kastela untuk benteng iitu, bahkan kemudian benteng itu lebih dikenal dengan nama benteng Gamalama. Sejak tahun 1522 hingga tahun 1570 terjalin suatu hubungan dagang (cengkih) antara Portugis dan Ternate.
Portugis yang sedang menguasai Malaka, tetapi segera terbukti bahwa mereka tidak menguasai perdagangan Asia yang berpusat disana. Portugis tidak pernah dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dan sangat tergantung kepada para pemasok bahan makanan dari Asia seperti halnya para penguasa Melayu sebelu mereka di Malaka. Mereka kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi mereka ditandai dengan perintah-perintah yang saling tumpang tindih dan membingungkan, ketidakefisienan, dan korupsi. Bahkan gubernur-gubernur mereka di Malaka turut berdagang demi keuntungan pribadi di pelabuhan Malaya, Johor, pajak dan harga barang-barangnya lebih rendah, dan hal tersebut telah merusak monopoli yang seharusnya mereka jaga. Para pedagang Asia mengalihkan sebagian besar perdagangan mereka ke pelabuhan-pelabuhan lain dan menghindari monopoli Portugis yang mudah.
Di sebelah barat Nusantara, dengan cepat portugis tidak lagi menjadi suatu kekuatan yang revolusioner. Keunggulan teknologi mereka yang terdiri atas teknik-teknik pelayaran dan militer berhasil dipelajari dengan cepat oleh saingan-saingan mereka dari Indonesia, meriam Portugis dengan cepet direbut oleh orang-orang Indonesia. Malaka Portugis menjadi suatu bagian dari jaringankonflik di selat Malaka, dimana Johor dan Aceh berlomba-lomba untuk saling mengalahkan Portugis agar bisa menguasai Malaka.
Kota Malaka mulai sekarat sebagai pelabuhan dagang selama berada dibawah cengkeramana Portugis, mereka tidak pernah berhasil memonopoli perdagangan Asia. Portugis hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kebudayaan orang-orang Indonesia yang tinggal di nusantara bagian barat, dan segera menjadi bagian yang aneh di dalam lingkungan Indonesia. Portugis telah mengacaukan secara mendasar organisasi sistem perdagangan Asia. Tidak ada lagi satu pelabuhan pusat dimana kekayaan Asia dapat saling dipertukarkan, tidak ada lagi negara Malaya yang menjaga ketertiban selat Malaka dan membuatnya aman bagi lalu lintas perdagangan. Sebaliknya komunitas dagang telah menyebar ke beberapa pelabuhan dan pertempuran sengit meletus di Selat.
Segera setelah Malaka ditaklukan, dikirimlah misi penyelidikan yang pertama ke arah timur dibawah pimpinan Francisco Serrao. Pada tahun 1512, kapalnya mengalami kerusakan, tetapi dia berhasil mencapai Hitu (Ambon sebelah utara). Disana dia mempertunjukkan keterampilan perang melawan suatu pasukan penyerang yang membuat dirinya disukai oleh penguasa setempat. Hal ini mendorong kedua penguasa setempat yang bersaing (Ternate dan Tidore) untuk menjajagi kemungkinan memperoleh bantuan Portugis. Jadi Portugis disambut baik di daerah itu juga karena mereka juga dapat membawa bahan pangan dan membeli rempah-rempah. Akan tetapi perdagangan Asia segera bangkit kembali, sehingga Portugis tidak pernah dapat melakukan suatu monopoli yang efektif dalam perdagangan rempah-rempah.
Sultan TernateAbu Lais (1522) membujuk bangsa Portugisuntuk mendukungnya dan pada tahun1522, mereka mulai membangun sebuah benteng disana. Sultan Mansur dari Tidore mengambil keuntungan dari kedatangan sisa-sisa ekspedisi pelayaran keliling dunia Magellan di tahun 1521 untuk membentuk suatu persekutuan dengan bangsa Spanyol yang bagaimanapun tidak memberikan banyak hasil dalam periode ini.
Hubungan Ternate dan Portugis berubah mnejadi tegang karena upaya yang agak lemah Portugis melakukan kristenisasi dan karena perilaku orang-orang Portugis yang tidak sopan. Pada tahun 1535, orang-orang Portugis di Ternate menurunkan Raja Tabariji (1523-1535) dari singgasananya dan mengirimnya ke Goa yang dikuasai Portugis. Disana dia masuk Kristen dan memakai nama Dom Manuel, dan setelah dinyatakan tidak terbukti melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya, dia dikirim kembali ke Ternate untuk menduduki singgasananya lagi. Akan tetapi dalam perjalanannya dia wafat di Malaka pada tahun 1545. Namun sebelum wafat, dia menyerahkan Pulau Ambon kepada orang Portugis yang menjadi ayah baptisnya, Jordao de Freitas. Akhirnya orang-orang Portugis yang membunuh Sultan Ternate Hairun (1535-1570) pada tahun 1570, diusir dari Ternate pada tahun 1575 setelah terjadi pengepungan selama 5 tahun, mereka kemudian pindah ke Tidore dan membangun benteng baru pada tahun 1578. Akan tetapi Ambonlah yang kemudian menjadi pusat utama kegiatan-kegiatan Portugis di Maluku sesudah itu. Ternate sementara itu menjadi sebuah negara yang gigih menganut islam dan anti Portugis dibawah pemerintahan Sultan Baab Ullah (1570-1583) dan putranya Sultan Said ad-Din  Berkat Syah (1584-1606).
Portugis juga terlibat perang dan terkepung di Solor. Pada tahun 1562, para pendeta Dominik membangun benteng dari batang kelapa disana, yang pada tahun berikutnnya dibakar para penyerang beragama islam dari Jawa. Namun orang-orang Dominik tetap bertahan dan segera membangun ulang benteng dari bahan yang lebih kuat dan mulai melakukan kristenisasi pada penduduk lokal.Pada tahun sesudahnya, muncul serangan-serangan dari Jawa. Masyarakat Solor sendiripun tidak secara keseluruhan menyenangi orang-orang Portugis atau agama mereka sehingga seringkali muncul perlawanan. Pada tahun 1598-1599, pemberontakan besar-besaran dari orang Solor memaksa pihak Portugis mengirimkan sebuah aramada yang terdiri dari 90 kapal untuk menundukkan para pemberontak itu. Namun Portugis tetap menduduki benteng-benteng mereka di Solor sampai diusir oleh Belanda pada tahun 1613 dan setelah itu Portugis melakukan pendudukan kembali pada tahun 1636.
Diantara para petualang Portugis tersebut ada seorang Eropa yang tugasnya memprakarsai suatu perubahan yang tetap di Indonesia Timur. Orang ini bernama Francis Xavier (1506-1552) dan Santo Ignaius Loyola mendirikan orde Jesuit. Pada tahun 1546-1547, Xavier bekerja di tengah-tengah orang Ambon Ternate dan Moro untuk meletakkan dasar-dasar bagi suatu misi yang tetap disana. Pada tahun 1560an terdapat sekitar 10.000 orang katolik di wilayah itu dan pada tahun 15901n terdapat 50.000an orang. Orang-orang Dominik juga cukup sukses mengkristenkan Solor. Pada tahun 1590an orang-orang Portugis dan penduduk lokal yang beragama Kristen di sana diperkirakan mencapai 25.000 orang.
Di Maluku Portugis meninggalkan beberapa pengaruh kebudayaan mereka yaitu balada-balada keroncong romantis yang dinyanyikan dengan iringan gitar berasal dari kebudayaan Portugis. Kosa kata Indonesia juga ada yang berasla dari bahasa Portugis yaitu pesta, sabun, bendera, meja, Minggu, dll. Hal ini mencerminkan peranan bahasa Portugis disamping bahasa Melayu sebagai lingua franca di seluruh pelosok nusantara sampai awal abad XIX. Bahkan di Ambon masih banyak ditemukan nama-nama keluarga yang berasla dari Portugis seperti da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendoza, Rodriguez, da Silva, dll. Jadi pengaruh besar kedatangan Portugis ke Indonesia yaitu terganggu dan kacaunya jaringan perdagangan sebagai akibat ditaklukannya Malaka oleh mereka serta penanaman agama Katolik di beberapa daerah timur di Indonesia.

Sabtu, 17 Maret 2012

Magelang: museum haji widayat

A.    Deskripsi Umum tentang Pendiri dan Proses Pendirian Museum Haji Widayat
Widayat dilahirkan tanggal 9 Maret 1919 di Kutoarjo, Jawa Tengah. Pengalaman seni lukis Widayat cukup mengesankan, setelah tamat HIS (Sekolah Belanda) di Trenggalek tahun 1937, ia pindah dan belajar di Bandung, Jawa Barat. Di kota inilah ia bertemu dengan “pelukis hari minggu” Mulyono, dan dapat dikatakan bahwa dari situlah karir kesenilukisan Widayat dimulai.
Pada tahun 1939, Widayat melamar sebagai pegawai kehutanan sebagai mantri opnamer (juru ukur) dan ditempatkan di Palembang selama lebih kurang tiga tahun. Masa tiga tahun sebagai juru ukur kebun karet sangat membekas dalam hatinya. Ini terlihat dalam sebagian karyanya yang banyak diilhami pengamatannya tentang alam, hewan dan tumbuhan.
Widayat melepas pekerjaannya di hutan karet saat Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Ia beralih menjadi juru gambar membuat peta rel kereta api Palembang. Tahun 1945 ia bergabung dengan PMC (Penerangan Militer Chusus), dengan pangkat Letnan Satu dan selanjutnya bergabung dengan divisi Garuda Sumatera Selatan tahun 1945-1947, sebagai Pimpinan Seksi Penerangan.
Di tempat inilah Widayat baru bisa meneruskan kembali semangat berkeseniannya lewat publikasi poster perjuangan.
Pada tahun 1950 ketika ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dibuka di Yogyakarta, Widayat masuk dan menjadi salah satu dari 45 mahasiswa pertama yang di terima di lembaga baru tersebut. Akhirnya Widayat dipercaya kembali ke almamaternya untuk mengajar di ASRI. Sejak menjadi pendidik di ASRI muncul obsesi untuk mendirikan museum, terlebih setelah pulangnya Widayat dari Jepang (1962).
Tahun 1998 Widayat memasuki masa pensiun dan tidak lagi mengajar di ASRI (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI). Dan pada tahun 1989 Widayat bersama Soemini (istrinya kedua) menunaikan ibadah haji ke tanah Suci Mekah. Sejak itu, dalam karyanya tertera tanda tangan h. Widayat (“h” dalam huruf kecil).
Museum Haji Widayat adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi dan prestasi dari pelukis H. Widayat. Impian dan obsesinya untuk memelihara dan mengabadikan karya-karya pelukis muda, khususnya mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI (Institut Seni Indonesia/ISI). Selama lebih dari 40 tahun, sebelum akhirnya terealisasi, memiliki museum merupakan cita-cita H. Widayat. Bukan saja sebagai tempat memamerkan karya-karya pribadinya maupun karya-karya pelukis dan perupa lain, tetapi sebagai seniman yang menjadi dosen Akademi Seni Rupa Indonesia, motivasi utamanya adalah menjadikan museum pribadinya sebagai tempat untuk belajar dan mengapresiasi karya seni.
 Sepulang dari belajar di Jepang pada tahun 1962, usulan untuk membuat museum ini muncul dan disodorkan oleh kawan dekatnya, Fadjar Sidik. Ide mendirikan museum ini sebenarnya bermula dari keprihatinan Widayat, yang pada saat itu sudah Pensiun dari Staf Pengajar di Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, melihat koleksi karya-karya mahasiswa yang hanya bertumpuk di gudang, bahkan banyak yang hilang diambil orang. Peristiwa itulah yang mendorong munculnya usulan Fadjar Sidik yang lantas direalisasikannya setapak demi setapak.
Konsep H. Widayat akan museum pribadinya dituangkan dalam disain oleh arsitek Ir. H. Edji Sukedji yang dikenal pada saat sama-sama menunaikan ibadah haji. Bangunan Museum diatas tanah seluas ± 5.000 m2 terdiri atas 2 lantai dengan luas bangunan ± 2.500 m2, yang pencahayaannya memanfaatkan sinar matahari yang menembus dinding-dinding kaca, terdiri atas Ruang Pamer Lantai 1 yang peruntukannya ditujukan untuk memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media, sedangkan Ruang Pamer Lantai 2 digunakan sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat.
Pada awal pendiriannya selain bangunan museum, H. Widayat juga mendirikan tempat tinggal merangkap studionya serta guest house sebagai tempat untuk menginap para tamu-tamunya. Museum ini dimaksudkan untuk memamerkan karya seni rupa yang telah dipilih oleh almarhum H. Widayat bersama Dewan Kurator menjadi koleksi tetap agar tetap dapat di nikmati oleh pecinta seni ataupun khalayak. Akhirnya pembangunan museum selesai pada awal tahun 1994 dan diresmikan pada 30 April 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Ing. Wardiman

B.     Deskripsi Bangunan Museum Haji Widayat
Museum Seni Rupa H. Widayat berdiri diatas areal tanah seluas ± 7.000 m2 terletak di jalur wisata diantara candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Logo Museum H. Widayat


Pada awal berdirinya logo Museum H. Widayat didisain oleh Aming Prayitno (murid sekaligus rekan kerja H. Widayat di ISI Yogyakarta) yang diminta kesediaannya oleh H. Widayat dan Hj. Soemini. Logo berbentuk segi empat dengan siku melengkung melindungi huruf M, H dan W yang dirangkai secara vertikal dengan porposional memiliki makna keseimbangan, sedangkan apabila diamati rangkaian huruf MHW menyerupai buku dan juga pintu terbuka, yang memberikan makna bahwa Museum H. Widayat merupakan sarana untuk menimba ilmu dan selalu terbuka bagi semua orang/kalangan.
Pada tahun 2001 logo Museum H. Widayat mengalami perubahan, dengan masih tetap mempertahankan rangkaian huruf MHW sebagai utamanya, logo dibuat dalam format lingkaran (tanpa merubah makna logo awal) serta mencantumkan tiga rangkaian nama bangunan utama kompleks museum : Museum H. Widayat, Galeri Hj. Soewarni (d/h Galeri Widayat), Artshop Hj. Soemini disekelilingnya. Tiga buah garis siku pada bagian atas dan dua buah garis siku bagian bawah, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soewarni (dua putri dan tiga putra), sedangkan garis vertikal sisi sebelah kiri dan kanan huruf MHW, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soemini (enam putra) yang apabila dijumlahkan keseluruhan garis berjumlah 11 untuk mencerminkan kesebelas putra-putri H. Widayat.
Pemilihan warna dominan orange dikarenakan warna orange dianggap warna yang dinamis, dimaksudkan untuk menandakan bahwa Museum H. Widayat adalah museum yang dinamis dan aktif, selalu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang. Penambahan dua nama (Hj. Soewarni dan Hj. Soemini) dilakukan seiiring perkembangan dan berdirinya Galeri Hj. Soewarni serta Artshop Hj. Soemini. Pemberian kedua nama pada bangunan tersebut adalah untuk mengabadikan dua orang yang paling berjasa dalam hidup H. Widayat yang telah menjadikan seorang H. Widayat menjadi seniman besar.
Perubahan logo tersebut merupakan konsep dan disain Drs. Fajar Purnomo Sidi M.M. (Putra H. Widayat) dan Oscar Samaratungga (Cucu H. Widayat).
Museum ini memiliki 3 bangunan utama ditambah area taman yaitu :
1.      Museum Haji Widayat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdiUhM6-ZD6PtER3r3trNPa8hHVZs0l-byv2smW1sOjPQzGi3cnYlAvz38PeyW1yyNHNwPvqaaK3oo9YqglqjOz6kpOWfFFNClTumGCG0IBQ0vvYx5U3AVd2YV_dHmZem_4HpA_ipmugL5/s400/Museum+Depan+Jadi.jpg https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdiUhM6-ZD6PtER3r3trNPa8hHVZs0l-byv2smW1sOjPQzGi3cnYlAvz38PeyW1yyNHNwPvqaaK3oo9YqglqjOz6kpOWfFFNClTumGCG0IBQ0vvYx5U3AVd2YV_dHmZem_4HpA_ipmugL5/s400/Museum+Depan+Jadi.jpg
Museum Haji Widayat merupakan bangunan utama yang terdiri dari Ruang Pamer Lantai 1 yang digunakan untuk memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media, sedangkan Ruang Pamer Lantai 2 digunakan sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat. Setelah memasuki pintu masuk  bangunan ini di sebelah kiri pintu masuk terdapat ruang informasi dan tempat pembayaran karcis. Setelah itu akan ada guide / pemandu yang akan memandu kita berjalan keliling seluruh ruangan di Museum Haji Widayat termasuk ke area taman.

2.      Galeri Hj. Soewarni
Galeri Hj. Soewarni diresmikan pada 20 Maret 1999 oleh Rektor Institut Seni Indonesia, Prof. DR. I Made Bandem. Pembangunan galeri seni yang diberi nama Hj. Soewarni adalah sebagai penghormatan atas jasa istri pertamanya, dimulai pembangunanya pada tahun 1997. Bangunan seluas 1.300 m2 ini diarsiteki oleh Ir. H. Edji Sukedji dilengkapi dengan gudang untuk penyimpanan lukisan, ruang untuk sekretariat/kantor, mezzanine serta kolam renang pribadi.
Masih menggunakan konsep yang sama dengan bangunan museum, cahaya matahari secara natural dimanfaat untuk menyinari ruangan yang dinding-dinding kacanya dihiasai oleh lukisan / sketsa H. Widayat. Galeri ini selain sebagai tempat untuk berpameran, workshop bagi seniman muda atau senior juga diperuntukkan untuk memenuhi keinginan para pecinta seni / kolektor yang berkeinginan untuk mengkoleksi karya-karya H. Widayat. Galeri ini mampu menampung lebih dari 50 karya lukis dan grafis, serta lebih dari 20 karya patung dan seni instalasi.

Galeri Hj. Soewarni juga mempunyai puluhan setrika kuno koleksi pribadi yang juga dapat menjadi daya tarik pendukung bagi pengunjung galeri ini.
  1. Art Shop Hj. Soemini
Art Shop Hj. Soemini adalah bangunan yang berupa rumah joglo yang didirikan sebagai penghormatan atas jasa istri kedua. Pendirian bangunan art shop Hj. Soemini ini, diarsiteki oleh Ir. Agung Wijanarko yang juga merupakan anak ke 5 dari H. Widayat dan Hj. Soemini. Bangunan seluas 1.300 m2 yang mengambil bentuk joglo ini selesai pendiriannya pada tahun 2001 dan diresmikan penggunaanya untuk pertama kali oleh H. Widayat.
Bangunan Art Shop Hj. Soemini terbagi atas 3 bagian, dimana ruang depan adalah tempat untuk penjualan cinderamata khas Museum H. Widayat, penjualan karya-karya seni seniman muda, dan sebagai tempat Workshop. Ruang tengah adalah ruang marmer, yang mana di ruangan ini terdapat lukisan / sketsa karya H. Widayat yang dipahatkan pada marmer dan tertempel pada dinding.
Ruang belakang adalah merupakan ruang peristirahatan yang pada konsep pembangunan adalah juga akan diperuntukkan sebagai studio tempat H. Widayat berkarya.

  1. Area Taman
Museum Haji Widayat dilengkapi dengan area taman yang berupa lanskap tanaman tropis lengkap dengan aneka macam jenis tanaman, burung dan juga unggas menunjang dan memberikan suasana asri yang sekaligus terasa menyatu dengan berbagai koleksi karya patung luar ruang (outdoor).
Jadi pendirian Museum Haji Widayat juga memperhatikan keindahan lingkungan dimana bangunan-bangunan tersebut berada dan menyatu. Selain itu area taman ini juga merupakan dukungan nyata terhadap program reboisasi

C.     Perkembangan Museum Haji Widayat

Berikut perkembangan Museum Haji Widayat sejak dibangun sampai sekarang:

  1. Pembukaan Museum H. Widayat
    30 April 1994
    Peresmian : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro
    2. Ulang Tahun Museum ke-I
    30 April 1995
    Pameran Patung Outdoor/Indoor
    Peresmian : Bupati Kepala Daerah Tingkat II Magelang Kardi
    3. Pembukaan Galeri Hj. Soewarni
    20 Maret 1999
    Peluncuran Buku "WIDAYAT. The Magical Mysticism of a Modern Indonesian Artist"
    Pameran Tunggal H. Widayat “80 th Anniversary Haji Widayat”
    Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem
    4. Pameran Patung dan Lukisan G. Sidharta
    15 Januari – 22 Januari 2000
    Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem
    5. Pameran “Not Just the Political”
    10 Nopember – 17 Nopember 2001
    Peresmian : H. Widayat
    6. Pameran “Pelukis Tanpa Bakat”
    Batara Lubis dan Nashar
    14 - 27 Januari 2002
    Peresmian : Bagong Kussudiardjo
    7. Solo Exhibition (The Last Exhibition) “83 th Anniversary Haji Widayat”
    16 Maret – 30 Maret 2002
    Peresmian : dr. Oei Hong Djien
    8. Pameran Bersama “Re-Kreasi”
    Mengenang 100 hari wafatnya Bapak H. Widayat
    28 September – 12 Oktober 2002
    Peserta 119 Seniman
    Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika
    9. Pameran Bersama “BOROBUDUR INTERNATIONAL FESTIVAL 2003”
    14 Juni – 28 Juni 2003
    Peserta pameran 79 Seniman
    Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika
    10. Pameran Tunggal “Block Note” Pupuk Daru Purnomo
    22 Pebruari – 05 Maret 2004
    Peresmian : G. Sidharta Soegijo
    11. Pameran Bersama “Membaca Dunia Widayat”
    13 - 26 Maret 2004
    Peserta Pameran 59 Seniman
    Peresmian : Deputi Menteri Bidang Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata DR. Sri Hastanto
    13 Maret 2004
    Peluncuran Buku “EXPLORING MODERN INDONESIAN ART INDONESIA” The collection of dr. Oei Hong Djien by DR. Helena Spanjaard
    Peluncuran buku : G. Sidharta Soegijo
    14 Maret 2004
    Bedah Buku “EXPLORING MODERN INDONESIAN ART INDONESIA” The collection of dr. Oei Hong Djien by DR. Helena Spanjaard.
    Nara Sumber :
    Jim Supangkat
    DR. Agus Burhan
    DR. Helena Spanjaard
    dr. Oei Hong Djien
    12. Pameran “Dekade” , 10 Tahun Museum Haji Widayat
    Penghargaan Widayat Award, penerima G. Sidharta Soegijo
    H. Widayat karya media kertas (Paper)
    Patung - Asosiasi Pematung Indonesia Yogyakarta
    30 Mei – 13 Juni 2004
    Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika
    13. Pameran Bersama “4 Perupa”
    Syahri
    Nana Banna
    Tresna Suryawan
    Abe A. Kohar Ibrahim
    15 Agustus – 29 Agustus 2004
    Peresmian : Ajip Rosidi
    14. Pameran Bersama Dosen dan Mahasiswa ISI Denpasar “Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern II”
    05 September – 12 September 2004
    Peserta 42 Seniman
    Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem
    15. Pameran Berantai “The Realistage”
    10 September – 24 September 2005
    Peserta 26 Seniman
    Peresmian : Ajip Rosidi
D.    Keistimewaan Museum Haji Widayat
1.      Koleksi Museum Haji Widayat
Koleksi yang dimiliki Museum H. Widayat terdiri atas bermacam-macam jenis karya dalam berbagai media. Seiring dengan berjalannya waktu maka bertambah pula jumlah dan jenis koleksi museum yang dari awalnya hanya sekitar 140 buah untuk karya H. Widayat bertambah menjadi kurang lebih 347 karya di tahun 2000, dan sekarang telah berkembang menjadi 1.001 karya dalam berbagai ukuran dan media. Demikian pula dengan koleksi museum karya seniman lain dari sekitar 130 pada awal museum berdiri maka untuk saat ini karya-karya tersebut telah bertambah menjadi sekitar 500 buah karya terdiri atas lukisan, sketsa, patung dan benda-benda antik lainnya.
2.      Lokasi
Museum ini terletak di jalur strategis yaitu jalur wisata diantara candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
3.      Jam buka
Museum Haji Widayat buka setiap hari dari pukul 08.00-16.00 WIB.
4.      Tiket dan Parkir
            Dewasa            : Rp  4.000,00
            Anak-anak       : Rp  2.000,00
            Parkir               : Rp  1.000,00
5.      Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang ada antara lain toilet, kedai makan, area taman dan tempat parkir.
6.      Sertifikasisi
Sertifikasi di Museum H. Widayat dimaksudkan sebagai tindakan preventif untuk pencegahan pembajakan, menghindari pemalsuan karya H. Widayat, maka museum H. Widayat mengeluarkan sertifikat yang menyertai lukisan atau karya yang terjual. Dengan metode pengamanan yang canggih diharapkan para pecinta seni/kolektor tidak terkecoh dengan membeli karya asli tapi palsu yang memang banyak beredar. Pengambilan keputusan tentang keaslian lukisan dirumuskan bersama antara Direktur dengan Dewan Kurator Museum H. Widayat.

DAFTAR PUSTAKA

http://hajiwidayat.com/perihal diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.30 WIB.

http://hajiwidayat.com/other_artists/daft_1.htm diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.35 WIB.

http://harianjoglosemar.com/berita/museum-haji-widayat-dibuka-lagi-23425.html diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.40 WIB.

http://www.antaranews.com/news/208951/museum-haji-widayat-tutup diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 08.00 WIB.